Minggu, 04 November 2012

Unsaid


Kadang kita bermimpi, mengharapkan sesuatu tanpa menyiapkan diri untuk kecewa, terluka, atau terbuang. Karena kadang mimpi lebih indah dan mudah untuk dibayangkan.  Dalam mimpi segala perasaan tercurahkan, dan logika kita buang jauh-jauh. Kita mulai terbelenggu dengan impian-impian yang telah kita rancang sedemikian rupa indahnya. Setiap hari menambahkan sebuah cerita lanjutannya. Sampai pada suatu titik kita merasa ditarik begitu jauh jauh dari mimpikita. Seolah mimpi itu berada di layar TV. Kita tidak mampu untuk menyentuhnya, berteriak sekeras mungkin mimpi itu tidak akan menoleh. Kemudian kita mulai menangis, kita bahkan tidak bermaksud menangis, tapi air mata itu jatuh dengan sendirinya.
Kita mempunyai dua pilihan. Pertama terus menatap sedih mimpi kita itu, dan air mata kita akan terus jatuh dan jatuh. Memandangnya, melihatnya, mengkhawatirkannya, bahkan kita bisa tersenyum sambil menangis. Kita tidak bisa membedakan kesedihan kita dan kebahagiannya. Rasanya sama-sama sakit. Kedua kita bisa merusak mimpi itu, melemparkan vas bunga dan menghancurkan TV itu, hingga kita tidak akan melihat mimpi itu lagi. Mungkin kita akan merindukannya, merindukan mimpi-mimpi itu sampai dada kita menjadi cukup sesak untuk bernafas. Sesaat rasa sakit itu bahkan lebih sakit dari pada memandang mimpi itu di layar TV seumur hidup kita bahkan. Dan sama skali tidak ada jaminan kita akan bahagia setelahnya,mungkin tidak akan pernah. Tapi setidaknya kita akan bertemu kenyataan yang tidak terlalu manis itu, tidak terlalu indah itu, dan akan sangat sulit untuk dijalankan. Tapi kenyataanlah yang membuat kita semakin kuat, karena mimpi hanya melemahkan diri kita, hati kita, dan kesadaran kita. Memilih kenyataan bukan untuk menhindar diri kita untuk terluka, tapi mengembalikan logika kita, kesadaran kita, diri kita yang sebenarnya.

2 komentar: